Rabu, 27 Agustus 2008

Bukan Sekedar “Romadhani”

Menjadi Hamba “Robbani” Bukan Sekedar “Romadhani”

Indahnya Bulan Ramadhan

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai semua orang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana puasa pernah diwajibkan kepada umat sebelum kamu, semoga kamu terpelihara” (Al Baqarah 183).

Begitu cepat waktu berlalu, tanpa terasa Ramadhan kembali akan kita jelang. Sungguh cepat rasanya perjalanan masa meskipun setahun tak pernah kurang dari 12 bulan. Demikian memang waktu terus berjalan, bergerak dan berputar sesuai dengan porosnya, mengikuti sunnatullah yang tidak bisa dihentikan, kecuali Allah semata. Perjalanan hidup manusia di dunia adalah merupakan waktu yang terus berjalan, dan kelak nanti akan ada pertanggungjawaban di akhirat, untuk apa waktu yang disediakan dalam hidup dipergunakan? Dan Allah SWT banyak bersumpah dalam kitab-Nya dengan menggunakan waktu; seperti yang banyak termaktub dalam Juz 30, disitu Allah bersumpah dengan waktu-waktu yang biasa demi dilalui oleh manusia. secara umum Allah menyebutkan; Demi masa (surat Al-Asr), dan secara khusus Allah menyebutkan demi waktu Fajar (surat Al-Fajr), Demi waktu Dhuha (surat Ad-Dhuha), demi waktu malam dan demi waktu siang (surat Al-Lail) dan lain-lainnya. . Tentunya sumpah tersebut mengisyaratkan akan pentingnya waktu yang harus diperhatikan oleh manusia dan kesempatan emas untuk dipergunakan sebaik-baiknya sehingga tidak menjadi orang yang merugi.

Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Al-Asr:1-3)

Dan dalam ayat lainnya Allah juga berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Al-Mulk:2)

Jadi inti dari terhindar dari kerugian terhadap waktu yang disediakan adalan iman dan amal salih.

Dan Allah mempergilirkan kehidupan ini, juga untuk melihat siapa yang memiliki jiwa juhud dan mendapatkan syahadah dalam hidupnya serta mendapatkan ridha dari Allah SWT.

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ

“Dan masa itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’”. (Ali Imran:140)

Namun, syukur al-hamdulillah kita masih sempat menemui Ramadhan dan semoga semua kita dapat berpuasa sesuai dengan perintah Allah, dan menjadikannya waktu dan kesempatan berharga untuk memperbanyak ibadah, amal shalih dan aktivitas lainnya untuk mendapatkan rihda Allah SWT.

Kita tentunya merindukan kehadiran bulan Ramadhan sebagaimana rindunya Rasulullah SAW dengan bulan ini. Kita tentunya bahagia dengan hadirnya bulan Ramadhan sebagaimana Rasulullah saw bahagia menyambut bulan ini. Begitupun tentunya kita sangat senang dengan bulan Ramadhan yang kita jelang, sebagaimana Rasulullah saw sangat senang ketika bulan Ramadhan akan dijelang. Oleh karena itulah, sejak bulan Rajab, Nabi saw mulai banyak membaca doa :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانٍ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah berkahilah hidup kami di bulan Rajab dan Syakban dan sampaikanlah usia kami hingga bulan ramadhan”.

Dan ketika menyambut terbitnya bulan sabit saat memasuki bulan Ramadhan, Nabi Muhammad SAW berdoa pula :

اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَم رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ هِلاَلَ رُشْدٍ وَخَيْرٍ

“Ya Allah, terbitkanlah (dan tampakkanlah) hilal kepada kami (diiringi) dengan keberkahan dan keimanan serta keselamatan dan keislaman, (jadikanlah dia) sebagai hilal kebaikan dan petunjuk, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Alloh.” (At-Tarmidzi (9/142), imam Ahmad (1/162), Ad-Darimi (2/7) dan lain-lain, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Wabilush Shayyib, hal. 220).

Senin, 25 Agustus 2008

MANUSIA YANG DICINTAI DAN DIBENCI ALLAH

MANUSIA YANG DICINTAI DAN DIBENCI ALLAH
Author : Adnan Tharsyah
Publisher : Mizania

“Panduan yang sangat berharga bagi mereka

yang ingin menjadi kekasih Allah.”

—K.H. Dr. Miftah Faridl

- Bagaimana memuliakan tempat-tempat yang dicintai Allah

- Bagaimana menyayangi orang-orang yang disayangi Allah

- Bagaimana mengutamakan perbuatan-perbuatan yang disenangi Allah

- Bagaimana menghindari sifat-sifat yang tidak disenangi Allah

- Bagaimana menjauhi perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah

”Cinta-Ku berhak Aku berikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena-Ku,

saling berbagi karena-Ku, dan saling bersilaturahmi karena-Ku."

—Hadis Qudsi

Tiadalah mungkin seorang hendak mencintai Allah tanpa mengenal Allah (ma'rifatullâh). Dan betapa mungkin orang mengenal Allah, apabila ia tidak mengindahkan kata-kata Allah. Karena itu, apabila Anda ingin mencintai Allah, indahkanlah kata-kata Allah dengan sepenuh daya, pikiran, dan hati Anda.

Buku ini menguraikan dengan jelas bagaimana cara kita menjadi kekasih yang dicintai Allah. Dengan sentuhan bahasa yang indah, Anda diajak untuk menyelami amal-amal saleh yang dapat mengantarkan Anda kepada kedekatan dan kemesraan dengan Allah.

Inilah buku terlengkap yang akan menuntun Anda untuk berbuat amal baik—kaya dan mencerahkan.

Kecintaan Allah

  • Beramal secara konsisten meskipun sedikit lebih baik daripada amal yang banyak tetapi dilakukan dengan jarang.
  • Seorang hamba Allah memiliki sikap lembut kepada Mukmin dan tegas kepada kafir.
  • Amalan sunnah dapat mengangkat kualitas amalan wajib.
  • Memberi kepada yang membutuhkan merupakan wujud kecintaan seorang hamba kepada Allah.
  • Berbakti kepada orangtua adalah amal yang paling dicintai setelah shalat.
  • Kekasih Allah adalah mereka yang senantiasa mencintai Nabi dan keluarganya.
  • Menampakkan kenikmatan dan mengerjakan rukhshah termasuk perbuatan yang dicintai Allah.
  • Tekun dan telaten dalam bekerja adalah ciri dari manusia yang dicintai Allah.

Kebencian Allah

· Banyak bicara tetapi tidak berbuat adalah perbuatan yang paling dibenci Allah.

· Orang miskin yang sombong lebih dimurkai Allah daripada orang kaya yang sombong.

· Tidak mau berdoa kepada Allah merupakan bentuk penyimpangan kepada-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Memiliki.

· Mengejar dunia tetapi melupakan akhirat adalah sikap yang akan mendatangkan murka Allah.

· Perbuatan baik yang dibarengi ujub lebih buruk daripada perbuatan dosa yang disertai penyesalan.

PESAN INDAH DARI MAKKAH DAN MADINAH

PESAN INDAH DARI MAKKAH DAN MADINAH
Author : Ahmad Rofi’ Usmani
Publisher : Mizania

"Hafshah! Makanan apa yang biasa disantap Rasulullah Saw.?”tanya ‘Umar bin Khaththab begitu mendengar usulan para sahabatnya untuk menaikkan gajinya sebagai khalifah. Hafshah menjawab, ”Roti tawar kering dan keras, Ayah. Untuk memakannya harus dicelupkan dulu ke dalam air minum.”

”Hafshah! Pakaian paling bagus apa yang beliau kenakan?” tanya ‘Umar lagi. ”Selembar jubah berwarna kemerahan karena sudah luntur. Itu yang beliau andalkan untuk menerima tamu-tamu kehormatan,” jawab sang putri. ”Apakah beliau pernah tidur di atas tilam yang empuk?” tanya ‘Umar lebih lanjut. ”Tidak, Ayah,” jawab sang putri yang tak kuasa menahan air matanya. ”Rasul Saw. hanya beralaskan selembar selimut tua. Di musim panas, selimut itu dilipatnya menjadi empat lapis agar agak tebal sebagai alas. Dan di musim dingin, selimut itu dilipat dua agar cukup lebar untuk menutupi seluruh badannya.”


***

Pada zaman krisis moral dewasa ini, orang tentu saja perlu mengetahui norma dan hukum. Tetapi, mengetahui aturan saja tidaklah cukup. Yang lebih penting daripada itu, orang membutuhkan teladan-teladan yang bisa mereka tiru.


Di antara teladan-teladan itu, empat khalifah bijak (khulafâ’ râsyidûn) ditampilkan kembali di buku ini agar menjadi cermin bagi kaum Muslim.

Dengan bahasa yang indah dan menawan, buku ini menghadirkan teladan-teladan cemerlang tentang cinta, persahabatan, kemuliaan, kepemimpinan, kebijaksanaan, dan jalan menuju surga. Betapa indah jika kisah-kisah teladan ini kita simak, renungkan, dan praktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Setelah Olimpiade Beijing

Setelah Olimpiade Beijing

Oleh I Wibowo

Olimpiade Beijing 2008 telah selesai! London dan penduduknya pun menjadi pusing: apa yang akan mereka tampilkan setelah Beijing berhasil menggelar semua kemewahan yang serba superlatif itu? Pusing karena biaya yang selangit, tetapi juga karena tingkat kreativitas yang mencapai titik setinggi itu.

Situasi ini juga akan membayang-bayangi kota-kota yang akan menyelenggarakan olimpiade setelah London. Atlet-atlet yang pernah mengikuti Olimpiade Beijing 2008 pasti akan membandingkannya dengan kehebatan Olimpiade Beijing itu. Ratusan juta pemirsa televisi di seluruh dunia pasti juga akan membandingkannya penyelenggaraan pesta olahraga paling megah itu.

China atau Beijing telah mematok sebuah standar penyelenggaraan olimpiade yang sangat tinggi. Ada hal lain yang berhasil ditancapkan China, yaitu kehebatan China secara keseluruhan. Semua pengamat mengakui bahwa sukses China menyelenggarakan Olimpiade Beijing 2008 ini merupakan panggung pementasan sukses reformasi China yang dimulai persis 30 tahun yang lalu (tepatnya Desember 2008). Baik bagi yang datang ke Beijing maupun yang tidak, ada satu pertanyaan besar yang menggantung di awang-awang: bagaimana China mencapai semua ini?

Hasil kerja keras

Negara maju memang sering memakai istilah yang sangat menggurui: ”keajaiban”. Seolah-olah apa yang terjadi di China bukan hasil kerja keras, tetapi sebuah kerja simsalabim! Sukses China terdiri dari dua elemen yang digabung: politik yang iliberal dan pasar yang semiliberal. Kombinasi cantik dua hal ini kini diterima sebagai ”rahasia sukses” China untuk mengembangkan ekonominya dan meraup kekayaan yang melimpah sehingga dapat menyelenggarakan olimpiade yang tiada tara itu.

Politik iliberal artinya politik itu dijalankan di bawah kepemimpinan Partai Komunis China (PKC). Layaknya partai komunis, PKC melandaskan dirinya pada prinsip-prinsip Leninis, yang tidak mengizinkan munculnya partai-partai. Kalau orang mau menyalurkan pendapatnya, ia harus memakai saluran yang disediakan oleh PKC. Ada ”Dewan Konsultasi Nasional” yang menampung dan mengolah pendapat golongan yang tidak mau masuk PKC. Kepala desa dipilih lewat pemilihan umum di pedesaan, tempat 70 persen rakyat China hidup, tetapi media massa, juga internet, masih diawasi oleh partai. Hal ini menyebabkan timbul pendapat bahwa partai masih memaksakan pendapatnya. Namun, perbaikan dalam sistem hukum selama 30 tahun terakhir ini merupakan petunjuk bahwa partai lebih tanggap terhadap tuntutan masyarakat. Anggota partai kini bisa dituntut di pengadilan, apalagi yang terlibat dalam korupsi.

Sistem pasar yang semiliberal berarti bahwa negara masih menjalankan serangkaian intervensi dalam perekonomian yang sejak tahun 1978 melepaskan diri dari sistem ”terencana oleh pusat”. Akibat diterapkannya sistem pasar bebas ini berhasil melambungkan pertumbuhan ekonomi China menjadi seperti sekarang. Peran pengusaha swasta—asing maupun nasional—memainkan peran yang bebas. Meskipun demikian, seperti diketahui oleh semua pengamat, negara tetap menjalankan intervensi lewat empat bank terbesar milik negara, mengandalkan lebih dari 100 badan usaha milik negara (BUMN), mengatur sektor-sektor investasi asing, dan yang paling penting menjalankan kontrol atas devisa.

Dengan sendirinya, dua hal di atas bertabrakan dengan ideologi ”globalisme” saat ini yang berisi pasar bebas dan demokrasi. Globalisasi dengan ideologi globalisme seperti yang ada sekarang sedemikian gencar dipropagandakan di seluruh dunia oleh Amerika Serikat dan organisasi internasional yang didirikannya (Dana Moneter Internasional/IMF, Bank Dunia, dan Organisasi Perdagangan Dunia/WTO). Akibatnya, di seluruh dunia saat ini dibanjiri oleh wacana pasar bebas dan demokrasi. (Manfred Steger, Globalism, 2005) Semua negara di dunia ”harus” menerapkan pasar bebas dan demokrasi tanpa kecuali. Kalau tidak, ia akan berada di luar lingkaran yang dibangun oleh AS itu dan akan kena sanksi yang sepadan.

Deng Xiaoping bukan Mao Zedong yang dengan garang melawan AS. Bahkan, Deng sejak awal tidak mempunyai rencana atau garis besar bagaimana menjalankan reformasi ekonomi di China. Pedomannya hanya satu: tidak peduli kucing hitam atau kucing, yang penting kucing yang bisa menangkap tikus. Sangat menarik bahwa pragmatisme seperti ini malah menghasilkan bangunan politik yang iliberal dan pasar yang semiliberal. Semua ini bertentangan dengan ideologi globalisme yang dipromosikan oleh AS, dan dengan demikian Deng Xiaoping dan pengganti-penggantinya akhirnya secara tidak langsung telah menjalankan kebijakan anti-AS.

Arah globalisasi bergeser

AS tentu saja tidak mau menyerah begitu saja. Pertentangan dua wacana ini sangat kentara sebelum dan selama berlangsungnya olimpiade. Presiden Bush pagi-pagi sudah mengkritik tiadanya kebebasan beragama di China. Media yang dikendalikan oleh AS dengan gencar mengejek dan mengkritik China yang mengontrol mereka. China membalas secara frontal dan menolak kritik maupun ejekan itu. ”Kalau Anda ingin keamanan, polisi dan tentara harus dibiarkan untuk menjaga Anda,” kata mereka.

Setelah Olimpiade Beijing 2008, globalisasi dengan nilai-nilai yang American oriented telah berubah atau bergeser. ”Globalisasi dengan ciri khas China” kini muncul di horizon, menempatkan China sebagai acuan bagi dunia. China kini menjadi contoh atau model pembangunan yang berhasil. Secara diam-diam banyak negara sedang berkembang percaya bahwa model China itu pantas mereka tiru. Wacana seperti ini, yang dikenal dengan nama ”Beijing Consensus” merambat cepat ke seluruh dunia. Bukan pasar bebas dan demokrasi yang menggoda mereka, juga bukan politik totaliter atau pasar tertutup, tetapi yang ada di antaranya.

I Wibowo Kepala Centre for Chinese Studies, FIB Universitas Indonesia.mr-kompas.

Minggu, 24 Agustus 2008

Perang Ketupat Bermula dari Penculikan Gadis oleh Siluman?

Perang Ketupat Bermula dari Penculikan Gadis oleh Siluman?

TRADISI perang ketupat kini tidak hanya rnenjadi rnilik rnasyarakat Kecarnatan Ternpilang saja. Narnun tradisi adat yang beberapa tahun belakangan ini di gelar di pesisir Pantai Pasir Kuning Desa Air Lintang Kecarnatan Ternpilang tersebut kadung tersohor hingga rnasuk ke sejurnlah kota besar di Indonesia sehingga rnenjelrna rnenjadi khasanah kekayaan budaya Provinsi Bangka Belitung bahkan nasional.

Kepopuleran perang ketupat temyata juga masuk ke lingkungan sejumlah kampus cukup terkenal di sejurnlah kota besar Indonesia.

Sebagai bukti, beberapa rekan harian ini yang sernpat rnengeyarn pendidikan di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta maupun Bandung, rnengaku dikampusnya cukup banyak skripsi yang rnengangkat rnasalah pesta adapt perang ketupat tersebut.

Salah satunya Nina, sarjana sastra Inggris asal Kecarnatan Ternpilang, alumni salah satu Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) yang cukup terkenal di Bandung Jawa Barat. "Ketika rnasih kuliah tingkat akhir dulu, awalnya saya berniat rnengangkat rnasalah perang ketupat untuk bahan penulisan skripsi saya. Narnun, ditolak oleh dosen pembirnbing karena kata beliau (dosen pembirnbing-red), perang ketupat di kampus saya itu sudah tidak asing lagi lantaran sebelurnnya sudah banyak yang rnengangkat

perang ketupat dalarn skripsinya. Jadi di kampus saya, perang ketupat sudah populer,"
Pengalarnan Nina ini hanya sekelumit fakta tentang kesohoran tradisi perang ketupat, masih banyak lagi bukti-bukti lain tentang ke populeran pesta adat perang ketupat ini di berbagai kalangan di luar Provinsi Bangka Belitung.

Seperti diungkapkan Araham alias Deraham, salah satu kepala dusun (kadus) di Desa Benteng Kota Kecamatan Tempilang.h)"Dulu, mahasiswa dan kalangan rnasyarakat lainnya baik dari Provinsi Bangka Belitung dan dari luar, banyak yang rnenanyakan seputar adat perang ketupat ini kepada saya,"

Hal senada diakui Ketua Pelaksana Adat Perang Ketupat, Kernan. Saat diternui harian ini di kediarnannya Desa Benteng Kota Kecamatan Ternpilang, belurn lama ini, Kernan mengaku sejak beberapa tahun lalu dirinya kerap kedatangan tamu dari sejurnlah daerah di Bangka Belitung dan juga dari luar daerah Bangka Belitung guna rnenanyakan seputar pesta adat perang ketupat tersebut.

Kendati demikian, Bangka Pos Group sejauh ini belurn berhasil rnenernukan bukti otentik mengenai asal mula lahirnya tradisi adat perang ketupat ini.

Berdasarkan informasi maupun penelurusan harian ini, belum ditemukan satupun prasasti yang rnengisahkan asal usul perang ketupat. Kelestarian adat perang ketupat hingga saat ini, berkat transfer informasi lisan alias kisah dari rnulut ke rnulut oleh generasi terdahulu sarnpai ke generasi saat ini.

Deraham, pria berusia 63 tahun yang sudah sekitar 38 tahun rnengabdi sebagai perangkat desa dan sekarang menjabat salah satu kadus di Desa Benteng Kota Kecamatan Ternpilang, rnembenarkan haI itu.

"Asal muasaI perang ketupat ini berdasarkan cerita dari rnulut ke rnulut dari para tetua kita terdahulu. Dulu saya cukup rajin rnenanyakan seputar perang ketupat ini kepada

tokoh masyarakat di Tempilang ini, dan beberapa keterangan mereka tentang perang ketupat ini sempat saya catat," kata Deraham di kediamannya, Kamis (21/8).

Deraham mengungkapkan, berdasarkan cerita terun temurun tersebut, perang ketupat bermula dari kisah terdamparnya sepasang suami isteri yang tidak diketahui asalnya pada zaman urang lorn di pesisir Pantai Tempilang yang lokasinya diperkirakan di belakang kediaman Kepala Desa Benteng Kota, Satria Kamut.

Setelah terdampar, pasangan suami isteri ini akhirnya menetap di pesisir pantai tersebut

hingga singkat cerita melahirkan seorang anak perempuan.

Ketika memasuki usia remaja, gadis tersebut kerap menghilang di saat tengah hari tiba tanpa diketahui sebabnya. Setelah diselidiki, ternyata gadis tersebut diambil (diculik) siluman buaya.

Agar anak gadisnya terhindar dari gangguan sang siluman buaya, kedua orangtuanya memberikan sesajen. Disamping itu, antara suami isteri melakukan ritual perang ubi gadung yang merupakan makanan pokok mereka kala itu.

"Ubi gadung itu separuhnya diparut hingga dijadikan tepung untuk membuat air taber, dansebagiannya lagi dikepal-kepal supaya bisa dilempar-Iempar antara mereka berdua suami isteri tersebut. Jadi, menurut cerita orang dulu, taber tidak dilakukan se kampungkampung, namun dilakukan pada setiap kayu besar yang dianggap tempat tinggal siluman-siluman itu," kisah Deraham.

Deraham mengaku, dirinya tidak tahu secara pasti sejak kapan ritual perang ubi gadung

ini diganti dengari ritual perang ketupat.7.

Lebih Ian jut Deraham mengungkapkan, beberapa tahun silam, versih)ini pernah dibakukan melalui forum rapat semasa Camat Tempilang dijabat Yuliswan.

"Hanya saja tahunnya saya lupa. Yang jelas semasa Camat Tempilang dijabat Pak Yuliswan, versi ini sudah dibakukan melalui rapat yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat diantaranya almarhum H Saleh dan mantan Kades Tempilang almarhum H A Rahim Surai serta A Rani yang tinggal di Basun Desa Sinar Surya Kecamatan Tempilang," kenang Deraham.

Tangkap Buaya

Deraham mengungkapkan, berangkat dari kisah sang gadis kerap diambil siluman buaya

saat tengah hari tersebut, dulunya sekitar sebulan sebelum hari pelaksanaan ritual perang ketupat digelar, selalu diawali dengan malang buaya atau menangkap buaya siluman yang dinilai kerap menganggu masyarakat setempat. Penangkapan siluman buaya ini tentunya dengan alat perangkap yang dirancang sedemikian rupa disertai pula dengan ritual-ritual tertentu. Setelah tertangkap, buaya siluman ini diarak keliling kampung dan akhirnya dibunuh.

Namun, seiring perkembangan zaman, ritual malang buaya ini sudah tidak dilaksanakan lagi.

"Sekitar tahun 1950 hingga 1960-an, upacara pemalangan buaya ini masih ada," ujar Deraham.

Disamping itu, Deraham juga mengatakan, awalnya ritual perang ketupat ini tidak dilaksanakan di Pantai Pasir Kuning Desa Air Lintang, melainkan di pesisir pantai yang berada di belakang rumah Kades Benteng Kota Satria Kamut, lokasi itu disebut-sebut temp at terdamparnya sepasang suami isteri pada zaman urang lorn yang tidak lain adalah orangtua sang gadis yang sering diambil siluman buaya.

"Terlepas dari itu semua, kita sebagai masyarakat perlu melestarikan adat perang ketupat ini sebagai aset kebudayaan daerah. Sedangkan pemerintah kita saja menganjurkan agar segal a aset budaya ini dilestarikan guna mendukung pariwisata," imbuh Deraham.(g18)

Perang Ketupat Sudah Ada Sejak 1883

MINGGU (24/8), puncak perayaan Ruwah dan Pesta Adat Perang Ketupat di Kecamatan Tempilang tahun 2008 digelar. Seperti biasa, puncak peryaan ruwah dan pesta adat perang ketupat tahun ini masih tetap dipusatkan di Pantai Pasir Kuning Desa Air Lintang Kecamatan Tempilang.

Hanya saja, untuk tahun ini puncak perayaan tersebut agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yakni diadakannya pagelaran panggung hiburan rakyat sepanjang Senin (25/8) sejak pagi hingga sore hari yang menghadirkan artis ibukota Tomy Ali serta sejumlah artis KDI.

Namun tahu kah Anda, sejauh ini belum diketahui secara pasti kapan pertama kali ritual perang ketupat ini digelar.

Seksi Seni dan Budaya Pesta Ruwah dan Adat Perang Ketupat 2008, Aidi, saat dikonfirmasi Bangka Pos Group di Tempilang, Kamis (21/8), mengaku, dirinya pun tidak tahu secara pasti kapan ritual perang ketupat tersebut pertama kali dilaksanakan.

Hanya saja, kata Aidi, sekitar tahun 2001 atau 20021alu, tim dari dinas terkait Provinsi Bangka Belitung pernah melakukan survei terkait perang ketupat ini.

Menurut Aidi, tim tersebut dibawa oleh Darmin, putra Tempilang yang kini mengajar disalah satu sekolah negeri di Pangkalpinang.

Aidi pun menyerahkan fotokopian yang disebut-sebut berisi tulisan hasil survei tim tersebut kepada harian ini.

"Kutipan hasil survei tersebut diperbanyak oleh Pak Darmin, dan kebetulan saya juga memegangnya," kata Aidi yang juga PNS di Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Tempilang.

Ternyata, hasil survei tim tersebut juga belum berhasil mengetahui secara pasti kapan perang ketupat pertama kali digelar.

Hanya saja, tim ini menyebutkan, berdasarkan cerita turun temurun, pada saat Gunung Krakatau di Selat Sunda melutus tahun 1883, upacara tradisional perang ketupat ini sudah ada.

Dijelaskan pula, upacara tersebut tetjadi pada zaman urang 10m yakni era dimana masyarakatnya belum mengenal agama. Mulanya, perang ketupat dilakukan dengan menggunakan ubi gadung, mirip ubi jalar, yang merupakan makanan pokok penduduk setempat pada saat itu.

Tim tersebut juga menjelaskan, selaras dengan kehidupan masyarakat Tempilang sebagai nelayan dan petani, maka setiap tahun dilaksanakanlah upacara tradisional taber kampung pada pertengahan bulan Sya'ban tahun IJijriyah.

Upacara ini terdiri dari lima tahapan, penimbongan yaitu pemberian makanan kepada makhluk halus yang dipercayai bermukim di darat, ngancak yaitu pemberian makanan kepada makhluk halus di laut, perang ketupat yang merupakan kegiatan simbolis untuk memerangi kejahatan makhluk halus yang mengganggu aktivitas warga setempat baik didarat maupun di laut, nganyot perae (menghanyutkan perahu) sebagai simbol memulangkan tamu-tamu makhluk halus yang datang dari luar Tempilang.

Terakhir, taber kampung yang bertujuan untuk membuang tasak besek (penyakit kulit) dan buyung sumbang (perzinahan).

Usai digelamya serangkaian upacara tradisional tersebut, tokoh adat mengumumk:an pantangan-pantangan bagi segenap masyarakat di Th)empilang. Pantangan tersebut berlaku di darat dan di laut.

Pantangan di darat diantaranya dilarang berkelahi dalam rumah tangga, tidak boleh berkerubung kain sarong (betukoi sangkot) di tengah kampung, menjemur kain di pagar serta dilarang bersiul.

Sedangkan beberapa pantangan di laut, diantaranya dilarang menangkap ikan laut dengan cara apapun selama beberapa hari, tidak boleh mencuci panci atau kuati di sungai

maupun di Jaut, tidak boJeh mencuci perlengkapan orang melahirkan di sungai maupun di laut, dilarang berjuntai kaki di sungai maupun di laut, tidak boleh memukul kain di air, dilarang mencuci daging ayam di air sungai maupun laut dan dilarang mencuci kelambu di sungai atau di laut.

Bagi yang melanggar pantangan di darat akan dikenakan sanksi oleh dukun darat berupa membayar uang 40 ringgit dan satu dulang kue. Sedangkan yang melanggar pantangan di laut mendapat sanksi denda uang 12 ringgit serta bubur merah dan bubur putih sebanyak 40 dulang. Selain itu, diyakini pula mendapat hukuman alam berupa kecelakaan di laut. mr-bangka pos

larangan dalam Islam


larangan dalam Islam yang besar, Selain Maling (korupsi), Madat (mabuk), Madon (Mainperempuan/zina), membunuh, dan Main (Judi, main apapun dengan taruhan), ada beberapa larangan besar yang benar-benar dipesankan oleh Rasulullah saw. Dari Abu Huroiroh ra, beliau bersabda:

"Jauhilah oleh kalian tujuh hal yang membinasakan!" Para sahabat bertanya: "Wahai Rosulullah, apakah tujuh hal yang membinasakan itu?"

Beliau bersabda: "Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang dirahamkan oleh Allah kecuali karena hak, makan riba, makan harta anak yatim, melarikan diri sewaktu berjihad, dan menuduh zina wanita-wanita mukmin yang senantiasa memelihara dirinya." (HR Bukhori dan Muslim)

Sikap rendah hati

Sikap rendah hati

"BAGAIMANAKAH hubungan antara bersikap rendah hati dengan ajaran inti yang dibawa oleh Rasulullah Saw, Tuan?" tanya seorang murid kepada Abu Qubaisy yang ketika membuka majelis taklimnya pagi itu berbicara banyak mengenai tawadduk.

"Dalam salah satu hadisnya yang banyak dikutip orang, Rasulullah Saw menyatakan bahwa beliau diutus terutama untuk memuliakan akhlak. Dan beliau bukan hanya bicara tentang akhlak mulia, tapi memberikan contoh di sepanjang usia beliau. Salah satu sifat beliau adalah selalu rendah hati. Kepada pengikutnya seringkali beliau berkata bahwa beliau adalah manusia biasa seperti juga manusia-manusia yang lain. Tawadduk itu sikap rendah hati, salah satu wujud dari akhlak mulia. Jadi, antara tawadduk dengan inti ajaran yang dibawa Rasulullah Saw yaitu akhlak mulia, bukan hanya memiliki relasi, tapi justru manunggal.

Di dalam Al-Quran Surat Al-Syu'ara ayat 215 antara lain Allah berfirman, 'Rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang meng-ikutimu dari orang-orang Mukmin.' Di ayat ini jelas Allah Swt menitahkan bersikap rendah diri yang maksudnya adalah rendah hati," jelas mahaguru yang luas ilmu dan pengetahuannya itu.

Mendengar penjelasan tersebut, murid yang tadi bertanya dan juga beberapa yang lainnya, sama-sama menganggukkan kepala.

"Dengan adanya titah untuk bersikap rendah hati itu, berarti orang tidak boleh sombong. Bahkan seorang pemimpin pun tidak boleh sombong dalam hidup ini. Karena dalam titah tersebut ada pula pesan untuk berendah hati terhadap para pengikut. Yang memiliki pengikut tentulah seorang pemimpin," komentar salah seorang murid dengan agak ragu.

"Betul. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah Saw bersabda, 'Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepada saya, hendaklah kamu merendahkan diri, sehingga tidak ada sifat sombong di antara satu dengan yang lain, dan tidak ada kedurhakaan antara satu dengan yang lain.' Kata Abu Qubaisy merespons komentar muridnya seraya menutup majelis taklim karena waktunya habis.mr-harianterbir