Minggu, 21 September 2008

Menapaki Jejak Islam di Kudus

Menapaki Jejak Islam di Kudus

Mesjid Menara Kudus
/Wilayah Pantura Timur dari Demak-Kudus hingga ke arah Jawa Timur dikenal sebagai daerah yang pernah disinggahi para Walisongo untuk penyebaran agama Islam.

Tak heran, jika budaya dan sisa-sisa peninggalan sejarah Islam masih ada. Bahkan, banyak suri tauladan yang patut dicontoh oleh penyebar agama Islam tersebut.

Seperti halnya di Kota Kudus, terdapat makam Sunan Muria dan Sunan Kudus, sebagai penyebar agama Islam yang sampai sekarang makamnya banyak dikunjungi peziarah.

Adanya dua tokoh penyebar Islam ini, masih meninggalkan kisah dan artefak kebudayaan Islam yang dapat dijumpai di sejumlah tempat di Kudus. Wilayah ini akhirnya mendapat julukan yang melekat dibanding kota lain, yakni sebagai kota santri.

Terlebih lagi, nama kota di Jawa yang berasal dari bahasa arab ternyata hanya Kudus. Diambil dari kata "Alquds" yang berarti tempat suci.

Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq sendiri sampai sekarang masih meninggalkan sisa-sisa kebudayaan yang dapat dilihat dan kebiasaan yang masih banyak dipegang oleh warga asli Kudus, terutama di Kudus Kulon, di lokasi sekitar Masjid dan Menara Sunan Kudus.

Sunan Kudus juga dikenal sebagai seorang wali yang memiliki toleransi yang tinggi terhadap agama lain, Hindu yang kala itu cukup berkembang.

Adapun kebiasaan Sunan Kudus hingga kini masih dijadikan panutan hidup adalah berdagang. Namun, hingga sekarang belum diketahui secara jelas sunan yang merupakan anak Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung Di Jipang, Panolan Blora dan yang dilahirkan pada abad XV (Ensiklopedia Islam, 1985) tersebut berdagang apa.

Sejumlah kalangan berpendapat, berdasarkan cerita turun-temurun, kebiasaan berdagang berawal dari kebiasaan sunan.

Menurut Ketua Yayasan Masjid dan Menara Sunan Kudus (YMMSK), Em Nadjib Hassan, hingga kini belum diketahui usaha dagang yang dijalani Sunan Kudus, karena memang belum ada kajian yang komprehensif (riwayat) Sunan Kudus. "Saat ini masih menjadi kontroversi," katanya.

Kata Nadjib, sejak dulu masyarakat Kudus memang dikenal sebagai seorang pedagang. Bukti masyarakat Kudus sebagai pedagang dapat dilihat pada daerah bernama Kampung Kudusan di Lumajang Jawa Timur. Hal demikian, terjadi pada pedagang yang menjual barang dari daerah lain yang mendapat julukan "Blayar".

Apalagi, status sosial pedagang waktu itu memang lebih tinggi jika dibandingkan dengan seorang pegawai pemerintahan, karena pegawai masih dipandang sebagai seorang yang dekat dengan dengan kolonial. "Hingga sekarang masih banyak orang tua yang mengancam anaknya yang nakal, akan menikahkan dengan pegawai. Orang tua lebih memilih menantu seorang pedagang daripada pegawai," jelas Nadjib.

Kebiasaan kehidupan Islami yang kental pun saat ini masih bisa terlihat. Tidak ada salahnya Kudus juga bisa dikatakan sebagai kota Santri, bukan hanya kota Kretek.

Sebab, menjelang Maghrib, di ruas jalan wilayah Kudus Kulon akan terlihat lengang dan tidak ada warga yang lalu lalang. "Jika ada yang keluar, biasanya para santri dan warga yang menunaikan Sholat," katanya.

Ditegaskannya, pada malam hari tidak ada perempuan yang akan keluar malam. "Kalaupun ada yang terlihat sampai pukul 01.00 WIB, karena pulang dari pengajian," katanya.

Kehidupan Islami ini juga nampak ketika para perempuan akan ditempatkan di bagian rumah yang dipisahkan dengan anyaman bambu untuk menutupi dari pandangan yang bukan muhrimnya.

Hanya saja, masih banyak yang salah kaprah soal gadis pingitan yang tidak boleh ke luar rumah. Padahal, gadis dipingit artinya menerapkan nilai-nilai Islam, sehingga seorang gadis tidak sembarangan ke luar rumah, untuk menghindari non muhrim.

Selain itu, kehidupan Islami juga tercermin pada perusahaan rokok seperti merek Djambu Bolan dan Sukun yang masih meliburkan buruhnya pada hari Jumat.

Peninggalan Sunan Kudus yang besar adalah menanamkan rasa keagamaan dan berkomitmen tinggi terhadap Syariat Islam. Sunan Kudus berharap umat Islam harus mandiri dan memiliki jiwa kewirausahaan.

Semasa hidupnya juga tidak eksklusif dan sangat akulturatif dengan perkembangan budaya agama Hindu yang saat itu cukup berkembang.

Hal ini tercermin pada bangunan menara di sebelah Masjid Sunan Kudus, untuk mengumumkan acara penting keagamaan.

Menara ini memiliki ketinggian 15 meter yang berbahan dasar batu bata, sirap, dan semen. Melalui inskripsi pada salah satu bagian rangka atap menara pendirian Menara Kudus, menunjukkan angka tahun 1609 jawa atau 1687 masehi. Menara Sunan Kudus mengadopsi kebudayaan Hindu yang diisi nilai-nilai Islami.

Selain itu, warga Kudus juga memiliki pantangan tersendiri yang dijaga turun-temurun untuk tidak menyembelih sapi, sebagai simbol hewan yang dikeramatkan Agama Hindu.mr-kompas

Jumat, 19 September 2008

Melacak Warisan Islam di Tiongkok

Melacak Warisan Islam di Tiongkok

Sebuah kabar tak sedap berembus dari Negeri Tirai Bambu. Umat Islam di Xinjiang--sebuah daerah otonom yang berbatasan dengan Tibet--dilarang otoritas Cina untuk menunaikan shalat Tarawih berjamaah di bulan Ramadhan. Tak cuma itu, mengunakan jilbab bercadar dan sorban pun menjadi hal terlarang bagi delapan juta umat Muslim Uighur yang tinggal di wilayah barat daya Xinjiang, Republik Rakyat Cina (RRC), itu.

Perlakuan diskriminatif terhadap umat Islam itu tentu saja sungguh sangat tak adil. Padahal, umat Islam yang tinggal di negeri itu sejak abad ke-7 M telah menyumbangkan sederet warisan penting bagi peradaban bangsa Cina. Sejarah mencatat, Islam yang dikenal sebagai Yisian Jiabao (agama yang murni) juga telah memberi pengaruh dalam kehidupan masyarakat Tiongkok yang multietnis.

Peradaban Islam di Cina mulai memiliki pengaruh yang kuat dalam berbagai aspek kehidupan pada era kekuasaan Dinasti Mongol Yuan (1274 M-1368 M). Dikuasainya sebagian besar wilayah Eurasia pada abad ke-13 M telah membawa dampak yang luas bagi tradisi Cina dan Persia. Ketika itu, dua peradaban berbaur menjadi satu dalam satu kekaisaran.

Penguasa Dinasti Mongol Yuan mengangkat status imigran Muslim menjadi Cina Han. Dinasti Yuan pun mendatangkan ratusan ribu imigran Muslim dari wilayah Barat dan Asia Tengah untuk memperluas wilayah dan pengaruh kekaisaran. Di era itulah, umat Islam memberi pengaruh yang begitu besar dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat Cina.

Anthony Garnaut, seorang pakar hubungan antara Cina dengan kebudayaan Islam dalam tulisannya berjudul,The Islamic Heritage in China: A General Survey, memaparkan sumbangan Islam di negeri itu. ''Islam telah memberi pengaruh yang cukup besar dalam teknologi, ilmu pengetahuan, filsafat, dan seni di Cina,'' papar Garnaut.

Menurut Garnaut, salah satu pengaruh umat Islam yang paling tampak di Cina adalah dalam bidang arsitektur. Peradaban Islam banyak memberi warna dalam motif hiasan serta kaligrafi. Menurut catatan sejarah, bangunan masjid pertama kali dibangun pada abad ke-7 M di era kekuasaan Dinasti Tang (618 M-907 M). Uniknya, arsitektur bangunan masjid ini mengikuti arsitektur tradisional Cina.

Paling tidak ada tiga jenis arsitektur masjid di dataran Cina. Di bagian barat Cina, arsitektur masjid menggunakan elemen-lemen seperti yang digunakan di bagian dunia yang lain. Salah satu cirinya; memiliki menara dan kubah. Namun, di belahan timur Cina, bangunan masjid justru tampak seperti pagoda. Sedangkan di barat laut Cina, masjid Muslim Uighur memadukan arsitektur Timur dan Barat.

Saat ini, tak kurang terdapat 45 ribu masjid di Cina. Lima masjid yang paling populer di antaranya; Masjid Niujie yang berada di Beijing dibangun pada 996 M; Masjid Huaisheng di Guangzhou; Masjid Kowloon dan Islamic Center di Kowloon, Hong Kong, dibangun pada 1896; Masjid Id Kah di Kashgar Xinjiang; serta Masjid Agung Xi'an di Xi'an, Shaanxi. Arsitektur bangunan masjid di Cina dikenal dengan keindahannya.

Peninggalan Islam lainnya yang masih bertahan di negeri Tiongkok itu adalah makam dua dari empat sahabat Rasulullah SAW yang berada di kaki Gunung Lingshan. Tempat itu dikenal sebagai "Makam Suci" tempat Sa-Ke-Zu dan Wu-Ko-Shun, dua sahabat Nabi Muhammad, dimakamkan. Mereka adalah orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Cina. Hingga kini, makam itu masih tetap terpelihara.

Salah satu jasa penting peradaban Islam lainnya di era kekuasaan Dinasti Yuan adalah pembangunan kota bernama Khanbaliq. Kota itu dibangun oleh para seniman dan insinyur serta tukang batu yang didatangkan dari negeri-negeri Islam di Asia Tengah. Selain itu, seorang insinyur Muslim bernama Amir al-Din juga tercatat telah mendesain Pulau Qionghua kini berada di sekitar danau Taman Beihai di pusat Kota Beijing.

Peradaban Cina juga mengenal tulisan indah yang dikenal di dunia Muslim sebagai kaligrafi. Seni menulis indah khas Islam itu di Cina dikenal dengan nama Sini. Karya-karya Sini itu banyak digunakan di masjid-masjid yang berada di timur Cina. Seniman kaligrafi Sini terkemuka bernama Hajji Noor Deen Mi Guangjiang.

Selain itu, peradaban Islam sempat memegang peran penting dalam pemerintahan di negeri Tirai Bambu. Di era kekuasaan Dinasti Ming, umat Muslim pun masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang, adalah jenderal Muslim terkemuka, termasuk Lan Yu Who. Pada 1388 M, Lan memimpin pasukan Dinasti Ming dan menundukkan Mongolia. Tak lama setelah itu, muncul Laksamana Cheng Ho--seorang pelaut Muslim andal.

Menurut Garnaut, perdaban Islam juga telah memberi pengaruh dalam dunia kedokteran Cina. Umat Islam di negeri itu telah memelopori pendirian rumah sakit pertama, hu yah wo yuan, pada 1277 M. Selain itu, buku kedokteran Cina yang direvisi pada era kekuasaan Dinasti Song pada 1056 M dan 1107 M banyak mengambil dari buku kedokteran yang ditulis Ibnu Sina.

Yang tak kalah penting, Islam pun cukup dominan memengaruhi seni kuliner Cina yang dikenal dengan aneka masakannya yang lezat. "Makanan halal yang bisa diterapkan umat Islam sejak dahulu masih cukup berpengaruh," papar Garnaut, ilmuwan alumnus Australian National University, di Melbourne itu.

Dalam bidang seni kuliner, masakan halal tak terlalu sulit untuk ditemukan di kota-kota besar di Cina. Sebab, banyak restoran maupun tempat makan di Cina yang dikelola orang Muslim. Bahkan, sudah ada provinsi yang mengeluarkan sertifikat makanan beku yang halal, yakni dari Provinsi Jiangsu.

Garnaut juga memaparkan bahwa budaya menulis juga merupakan salah satu warisan peninggalan peradaban Islam di daratan Cina. Aneka macam peninggalan budaya itu masih bertahan hingga sekarang. Dalam bidang astrologi dan astronomi, peradaban Islam juga sangat besar pengaruhnya di Cina.

Prof Li Hua Ying dalam tulisannya bertajuk, ,Islamic Heritage of Muslims in China menambahkan, pada abad ke-17 M, Islam masih memberi pengaruh yang besar bagi masyarakat di daratan. "Umat Muslim bersama dengan suku Han telah membantu Cina pada masa-masa senang dan susah," papar Prof Li. Umat Islam, papar Li, juga telah turut berjasa mewujudkan perdamaian di wilayah perbatasan.

Prof Li juga menilai, umat Islam di Cina pada abad ke-17 M juga sangat berjasa memperbaiki perekonomian dan mengembangkan pengetahuan keagamaan. Pada era itu, buku-buku Islam tentang linguistik, filsafat, fikih, akhlak, sejarah, dan pemikiran serta tradisi Cina dalam bahasa klasik Han begitu banyak diterbitkan.

"Penulis seperti Ma Chu (1640 M-1711 M), Leo Tse (1660 M-1730 M), dan Chang Chung (1584 M-1670 M) dengan produktif menghasilkan karya-karyanya, tak hanya menerjemahkan dari bahasa Arab dan Persia," ungkap Prof Li. Buku-buku Islami itu lalu disinkronisasi dengan sistem pengajaran dan filosofi Confucius. Para sarjana Muslim seperti Wang Dai Yu dan Liu Tsi di era kekuasaan Dinasti Ming dan Chen, telah memberi pengaruh pada pemikiran filasafat Cina

Kamis, 18 September 2008

Seperti Tidak Ada Kematian


Karya: Setiyo Bardono

Hujan deras semalaman, menyisakan gerimis yang membuat pagi seakan enggan beranjak. Suasana akhir pekan membuat beberapa penduduk kampung memiliki lebih banyak alasan untuk merapatkan selimut mimpinya. Apalagi tidak ada suara serak dari speaker musholla yang menyerukan berita penting.

Sepertinya memang tak ada alasan bagi beberapa orang untuk segera beranjak dari tempat tidur. Bahkan ketika istri-istri mereka yang baru saja pulang belanja di warung sebelah mengabarkan sebuah berita kematian.
"Bayi Bu Sari meninggal dunia."
"Innalillahi... Bu Sari siapa?"
"Itu lho yang ngontrak di belakang rumah Pak Jajang."
"O..."
“Coba tengokin Pak, kasihan kan…”
“Ibu saja deh…”

Berita kematian itu tetap membuat pagi seakan enggan beranjak. Hujan deras semalaman seperti telah menghanyutkan aroma kematian itu jauh memenuhi empang besar di sudut kampung yang hanya berisi sampah, ikan mujahir hitam dan sapu-sapu. Tapi hujan deras sepertinya tidak mampu menghapus duka yang memenuhi kamar kontrakan seluas 2 x 4 meter di belakang rumah Pak Jajang.

Duka itu tersimak dari pembicaraan tiga orang yang berada di beranda rumah Pak Jajang. Sebuah rekontruksi kematian meluncur terisak dari mulut Bu Jajang.

Duka itu berawal dari ketukan pintu yang begitu menghiba di tengah malam. Bu Sari yang sedang hamil 8 bulan merasakan perutnya mual-mual. Suaminya yang sedang mencari pinjaman uang belum juga kembali. Pak Jajang segera memanggil Mak Icih, dukun beranak langganan kampung Cinangka. Kepiawaiannya menolong persalinan ternyata tidak cukup berarti kali ini. Bayi itu ternyata telah meninggal dalam kandungan. Setelah salah satu lengannya merogoh ke dalam rahim, Mak Icih berhasil mengeluarkannya.

"Kepalanya pecah, darahnya banyak sekali. Darah itu..."
Rekontruksi berhenti mendadak. Tubuh Bu Jajang tiba-tiba terkulai lemah. Pak Jajang segera membopongnya ke dalam rumah. Sepertinya peristiwa malam itu begitu dalam membekas di benak perempuan tua itu.
--- oOo ---

"Suaminya mana...."
Pak Sukri segera menghampiri Pak RT yang datang dengan tergopoh-gopoh.
"Kamu cari papan atau bambu untuk menutup lubang kuburan."
Tubuh Pak Sukri yang tergesa menghilang tiba-tiba kembali lagi dengan sebuah pertanyaan.
"Cari bambu di mana ya?"
"Coba ke rumah Bang Japrak. Itu yang rumahnya dekat rumah Pak RW."
"Kalau rumah Pak RW dimana?"
Pak RT menghela nafas panjang.
"Di belakang musholla atas. Tanya saja di sana."
Petunjuk itu segera melesatkan tubuh Pak Sukri.
"Gimana Te..," tanya Pak Jajang.
"Sudah beres. Tinggal ngubur saja...."

Pak RT membuka kopiah dan menggunakannya sebagai kipas untuk menghalau keringat yang membasahi tubuhnya.
“Kalau bukan karena Mang Ujang, saya sudah angkat tangan. Kartu Keluarga dia nggak punya. Tinggal di sini juga nggak pernah laporan sama saya.”

Mang Ujang adalah satu-satunya penduduk kampung yang mengakui keluarga Pak Sukri sebagai saudaranya. Entah saudara dari mana, tetapi keberadaan Mang Ujang sebagai salah satu tokoh masyarakat, membuat Pak RT mau tidak mau harus turun tangan.
“Sebagai pemilik kontrakan saya sudah sering menyuruhnya untuk lapor ke Pak RT, tapi dia selalu bilang nanti saja kalau ada waktu…”. Suara Pak Jajang seperti sebuah pembelaan.
Beberapa orang ibu-ibu terlihat hilir mudik melayat. Letak kontrakan Pak Sukri yang ada di sebelah rumah, membuat mereka mau tak mau harus melewati beranda rumah Pak Jajang.
“Tadi pagi saya dan Mang Ujang mati-matian membujuk Pak Haji agar mau memberi sedikit tempat untuk menguburkan bayi itu di pemakaman.”
Kata-kata Pak RT seperti meminta sebuah perhatian. Pak Haji yang dimaksud adalah Haji Sabeni yang bertanggung jawab penuh atas segala kegiatan di lahan pemakaman Kampung Cinangka. Orang yang akan dikubur di lahan itu harus terdaftar di Kartu Kuning, yang bisa didapatkan oleh Kepala Keluarga dengan membayar Rp100.000.

Haji Sabeni selalu memegang teguh peraturan tersebut. Kewibawaannya bisa terancam bila mengijinkan sembarang orang yang meninggal untuk dikubur di pemakaman itu. Tapi sekali lagi, keberadaan Mang Ujang sebagai salah satu tokoh masyarakat Kampung Cinangka harus juga diperhitungkan oleh Haji Sabeni. Sepertinya sudah terjadi sebuah kompromi.
“Untung ada jaminan dari Mang Ujang bahwa Pak Sukri adalah benar-benar keluarganya. Kalau tidak, saya juga angkat tangan.”
Kesigapan Pak RT yang terkenal piawai dalam mengatasi berbagai persoalan kembali diuji dalam menangani masalah ini. Sepertinya seorang RT memang harus mempunyai slogan Mampu Mengatasi Masalah Tanpa Masalah.
“O ya, saya harus segera memberitahu Pak Ustad untuk mensholatkan jenazah. Kabarnya siang nanti dia mau kondangan ke luar kota.”

Pak RT kembali tergesa meninggalkan beranda rumah Pak Jajang. Dari dalam rumah terdengar teriakan Bu Jajang yang rupanya sudah siuman.
“Dayat! Cepat bangun. Ada bayi meninggal malah tidur melulu. Sebentar lagi mau diangkat… bantuin gih..”
--- oOo ---

Semua benda yang ada dalam ruangan 2 x 4 meter itu khusyuk mengikuti setiap lafal dan gerakan Pak Ustad. Pak RT dan Dayat, anak Pak Jajang menjadi makmum yang tertatih mengikuti gerakan sholat jenazah. Di atas selembar kasur lepek yang menyita hampir setengah ruangan, berbaring lemah Bu Sari dengan berlinangan air mata memandangi jasad bayinya yang terbungkus rapat selendang batik.
“Pak Ustad, terima ini sebagai syarat…”
Seorang perempuan menyodorkan selembar amplop kepada Pak Ustad setelah menyelesaikan sholat jenazah.
“Wah, nggak usah repot-repot, ini sudah kewajiban kita sebagai sesama muslim,” kata Pak Ustad sambil mengantongi selembar amplop tersebut.
Begitu kaki mereka keluar pintu, Pak Sukri langsung menyambutnya.
“Saya harap Bapak tabah dan ikhlas menghadapi cobaan ini. Bayi lahir sebagai makhluk yang suci. Insya Allah anak Bapak akan masuk surga…”
Wejangan Pak Ustad menjadi butiran air mata yang mengalir perlahan di kedua belah mata Pak Sukri.
“Setiap habis sholat, tolong kirim doa dan Al Fatihah untuk anak Bapak.”
“Terima kasih Pak Ustad.”
Pak Sukri menyalami dan mencium telapak tangan Pak Ustad.
“Sekarang jenazah sudah bisa dibawa ke pemakaman…. Maaf, saya tidak bisa ikut mengantarkannya karena ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan.”
--- oOo ---

Siang itu sepanjang jalan menuju pemakaman, penduduk kampung Cinangka menjumpai perjalanan jenazah menuju pemakaman tanpa arak-arakan. Pak Sukri membopong jenazah anaknya dengan dada dipenuhi dengan berjuta beban. Di sampingnya, tampak Dayat mengikutinya sambil memayungi jenazah dengan payung kecil hitam. Pak RT mengikuti mereka dari kejauhan .
Orang-orang kampung yang melihat dua orang pengantar jenazah itu tak bisa menyembunyikan perasaan yang dipenuhi tanda tanya. Sementara sejumlah anak kecil berseragam merah putih segera lari menghindar.
Ketika melewati jalan aspal, dari kaca mobil yang kebetulan melintas terlontar beberapa uang recehan. Seorang ibu muda berkacamata hitam melongok dari jendela sedan BMW-nya.
“Anak Bapak, ya…”
--- oOo ---

Di permakaman, wangi bunga Kamboja dan kerentaan dua orang penjaga sudah menunggu. Melalui beberapa kelokan di dalam pemakaman sampailah mereka pada sebuah lubang tanah yang siap menerima jenazah yang suci dan tak berdaya itu.
“Bambunya sudah datang apa belum?” Tanya Pak RT yang segera bergabung dengan mereka.
“Tahu nih, kok belum datang juga ya..”

“Udah pakai ini saja… Nanti ditukar saja pakai bambu-bambu itu. Tak baik jenazah harus menunggu lama-lama” Salah seorang penjaga muncul dengan membawa dua buah papan penanda kuburan yang tidak sudah tidak terpakai.
“Lebih afdhol kalau Bapaknya sendiri yang turun,” kata salah seorang penjaga.
“Tolong semua talinya di lepas dan mukanya dihadapkan ke arah kiblat. Pastikan mukanya benar-benar mencium tanah”
Pak Sukri menjalani instruksi itu dengan terbata-bata. Sepertinya dia sulit menemukan muka bayinya yang sudah remuk. Seremuk hatinya ketika harus meletakkan bulatan-bulatan tanah untuk menyangga posisi jenazah. Tapi bagaimanapun juga ia harus mengikhlaskannya ketika papan itu mulai ditutupkan dan onggokan tanah merah perlahan menutupi lubang hingga membentuk sebuah gundukan baru.
“Waduh… kan jenazahnya belum di-adzan-i"
Suara itu seperti petir yang menyambar kesadaran semua orang yang ada di tempat itu.
“Kok nggak ada yang ingat ya. Harusnya tadi sebelum ditutup papan.”
“Ya, namanya juga khilaf”
Pak RT berjongkok dan mendekatkan mulutnya ke gundukan tanah. Suara adzan serak berkumandang.
“Nggak apa-apa. Pasti suara adzan bisa menembus tanah merah ini.”
Dari kejauhan terdengar teriakan Mang Ujang yang tergopoh-gopoh memikul seikat potongan bambu. Semua orang yang ada di pemakaman hanya bisa tersenyum melihatnya.
“Jenazah sudah dikuburkan, kok bambunya baru datang…”
--- oOo ---

Malam harinya Kampung Cinangka menapaki kegelapan seperti malam-malam sebelumnya. Begitu juga dengan kontrakan di belakang rumah Pak Jajang. Lampu menyala redup. Pintu tertutup rapat sejak senja mulai merayap. Hanya berisik televisi dan suara anak-anak yang sayup terdengar.

Sepertinya hanya tebaran bunga dan wangi melati di salah satu gundukan tanah merah di pemakaman pinggir kampung yang benar-benar membaurkan aroma duka. Jejak yang semakin lama semakin layu terbakar panas matahari dan semakin pudar di hembuskan angin malam.

Pada hari kelima sejak kematian bayi Bu Sari, suara tangis kanak-kanak memecahkan terik siang hari. Ibu-ibu yang sedang di beranda rumah mendapati Ryan, anak ketiganya Bu Sari terjungkal dari sepeda mininya. Bu Sari yang sedang duduk di depan pintu kontrakannya, langsung menyerocos begitu melihat anaknya datang dengan tangisan.
“Makanya jangan nakal. Siang-siang main sepeda melulu. Kalau jatuh begini, Mama juga yang repot!”
Cerocosan Bu Sari membuat tangis Ryan semakin kencang, palagi ketika cerocosan berubah menjadi beberapa tamparan. Ryan kecil berlari kencang. Berlari dan terus berlari menuju jalan raya. Bu Sari hanya memandangi anaknya sambil mengumpat.
“Dasar anak nakal!”

Jumat, 12 September 2008

Daya Tarik Pelangi di Curugsewu

Daya Tarik Pelangi di Curugsewu


Munculnya pelangi pada saat tertentu di objek wisata air terjun Curugsewu di Desa Curugsewu, Kecamatan Patean, sekitar 40 km selatan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah menjadi daya tarik bagi wisatawan mengunjungi daerah ini.

"Pada objek wisata ini ada tiga tingkatan air terjun dengan ketinggian antara 30 hingga 35 m menjadikan daya pikat sangat kuat bagi wisatawan. Apalagi pada saat muncul pelangi dengan aneka warna menarik, sangat indah dan elok dipandang," kata Mularsih, seorang pengamat kepariwisataan di Kendal, Rabu (10/9).

Ia mengatakan, bagi wisatawan yang ingin mengunjungi objek wisata ini dari kota Kendal wisatawan harus melalui Waleri dan Sukorejo. Objek wisata yang menjadi andalan Kabupaten Kendal ini berada pada ketinggian 650 m di atas permukaan laut (Dpl).

Untuk memberi kenyamanan pengunjung, Pemkab Kendal membangun berbagai fasilitas, mulai taman rekreasi, panggung taman bermain untuk anak, kereta mini, jet coaster hingga kolam renang bertsandar nasional. "Lokasi objek wisata ini cukup sejuk," katanya.

Biasanya, katanya, pada saat Hari Raya Idul Fitri lokasi objek wisata ini banyak dikunjungi wisatawan lokal dari dalam maupun luar Kabupaten Kendal.

Objek wisata lainnya yang menjadi andalan Kabupaten Kendal di antaranya objek wisata gua Kiskendo di Singorojo, kolam renang Boja, Pantai Pelabuhan Baru Kaliwungu, Pantai Ngebum Kaliwungu, Pantai Jomblom Cepiring, dan Pantai Sendang Sikucing Rowosari.

Kamis, 11 September 2008

Saleh

Saleh

Oleh: Zaim Uchrowi


Seberapa seringkah kita hari-hari ini mendengar kata 'saleh'?

Masjid di kampung asal saya, menurut cerita, adalah masjid 'tiban'. Sebuah masjid yang dipercayai ada begitu saja, seolah jatuh dari langit. Pemimpin masjid itu Mbah Kiai Sahal, kiai yang menjadi pusat spiritualitas masyarakat sekitar. Ke sanalah banyak orang datang minta restu, doa, nasihat, bahkan juga obat. Namun, sosok lain yang juga perlu diperhatikan di masjid itu adalah Pak Saleh.

Pak Saleh bukan pribadi serbasempurna. Ayah Daroji ini lebih terlihat sebagai seorang biasa, tak beda dengan para tetangganya. Rumahnya di sebelah barat masjid, terpisah oleh kebun singkong. Ia bisa ke masjid lewat kebun itu atau memutar lewat jalan bila kebun becek karena hujan. Ia akan ke blumbang untuk berwudhu. Lalu, jejak kakinya akan membasahi lantai emperan masjid. Pak Saleh yang akan menjadi imam shalat kalau Mbah Kiai Sahal berhalangan. Singkat kata, ia orang baik, sebaik namanya: Saleh.

Sekarang, semakin sedikit orang tua yang menamai anaknya 'Saleh'. Padahal, nama itu punya arti bagus, yakni 'taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah'. Juga, berarti 'suci dan beriman'. Lebih mendalam lagi, 'saleh' punya makna luar biasa sehingga disebut berulang kali dalam Alquran. Apakah karena kita sekarang lebih berorientasi duniawi dan kurang ukhrawi sehingga nama Saleh semakin ditinggalkan? Mungkin saja.

Istilah 'saleh' yang paling sering disebut ada dalam surat pendek Al 'Asr. Tegas sekali isi surat itu, "Manusia pada dasarnya merugi." "Kecuali, yang beriman dan beramal saleh ...." Di surat Attin, hal itu ditegaskan lagi, sedangkan dalam surat Alburuj disebutkan bahwa beramal saleh merupakan 'keberuntungan yang besar'.

Penyebutan kata 'saleh' yang begitu sering tentu punya maksud. Apalagi, penyebutannya hampir selalu berdampingan dengan kata 'iman'. Iman-amal saleh. Iman-amal saleh. Keduanya seperti kata-kata suci yang akan menjamin sukses manusia dunia akhirat. Kedua kata itu seperti tak dapat dipisahkan satu sama lain. Bila benar posisi amal saleh itu begitu penting, bagaimana sebenarnya istilah itu harus dimaknai.

Menteri Sofyan Djalil meyakini bahwa amal saleh bukan sekadar 'perbuatan baik'. 'Saleh' juga berarti 'profesional'. Keyakinannya itu disampaikan di berbagai kesempatan. Tak hanya saat berkhutbah, juga dalam pidato-pidato di lingkungan BUMN. Bila saleh adalah profesional, bahasannya menjadi lebih panjang lagi.

Profesional sama dengan kompeten. Dengan demikian, 'saleh' juga harus berarti kompeten atau memiliki keahlian dalam kehidupannya. Selain kompetensi, profesional juga mengandung unsur integritas serta kapasitas manajemen. Dengan demikian, amal saleh juga berarti jujur dan bertanggung jawab serta berkapasitas mengelola segala hal untuk mendapatkan hasil yang efektif dan efisien. Dengan demikian, seorang saleh berarti seorang profesional.

Dari sana, dapat dipahami bahwa saleh, sebagaimana iman, memang kunci sukses. Bila hidup kita kurang sukses, tentu ada persoalan dalam kesalehan dan keimanan ini. Itulah yang harus diperbaiki agar lebih sukses. Dengan demikian, bila umat ini kurang sukses dalam kehidupan publik, berarti masih ada masalah dalam keimanan dan kesalehannya sehingga harus diperbaiki. Umat yang masih jauh dari profesional ini adalah umat yang masih jauh dari saleh. Itu yang perlu diperbaiki dalam Ramadhan ini.

Di tahun 1970-an, cukuplah keberadaan Pak Saleh sebagai imam masjid. Sekarang, kita memerlukan Pak Saleh-Pak Saleh yang mampu menjadi imam bisnis, imam masyarakat, bahkan imam bangsa yang baik.mr-republika

Rabu, 10 September 2008

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan
Author : Nurcholish Madjid
Publisher : Mizan

“Setiap pembaru, di mana pun di muka bumi ini, hampir pasti

selalu dilawan, dicaci-maki, dan dimusuhi, tetapi ajaibnya diam-diam diikuti. Ini juga berlaku atas cendekiawan Indonesia Nurcholish Madjid yang telah bekerja keras untuk mengawinkan keislaman dan keindonesiaan, sebuah sumbangan

berharga tinggi telah diberikannya kepada bangsa ini.”

—Ahmad Syafii Maarif

Mantan Ketua PP Muhammadiyah

Tak sulit disepakati bahwa Nurcholish Madjid adalah seorang pemikir-Muslim modernis atau, lebih tepat, neomodernis—menggunakan peristilahan yang sering ia sendiri lontarkan. Maka, melanjutkan para perambah modernisme (klasik) di masa-masa lampau, Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernistik. Namun, berbeda dengan para pendahulunya, kesemuanya itu tetap harus didasarkan atas kekayaan khazanah pemikiran keislaman tradisional yang telah mapan. Di segi lain, sebagai pendukung neomodernisme, ia cenderung meletakkan dasar-dasar keislaman dalam konteks nasional—dalam hal ini, keindonesiaan.

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan ini—di tengah berbagai pembahasan atas tokoh ini—adalah buku pertama yang menampilkan secara lengkap pikiran-pikiran “tangan pertama” Nurcholish Madjid, lewat tulisan-tulisannya sendiri mengenai soal-soal di atas. Meliputi rentang waktu tak kurang dari dua dasawarsa, antologi ini memuat pula pikiran-pikirannya tentang sekularisasi, plus tinjauan-tinjauan kembalinya atas “heboh intelektual” yang disulutnya itu—tak kurang dari lima belas tahun setelah itu.

Keris, dari Besi Tua ke Besi Aji


Bagian bawah keris Sabuk Inten

Oleh Wartawan Kompas.com, IGN Sawabi

MEMBUAT keris diawali dengan pemilihan bahan baku yang baik. Dalam kasanah perkerisan ada berbagai jenis besi. Yang sering disebut-sebut ada besi Mangangkang, Pulosrani, Balitung dan sebagainya.

Tentu hanya mereka yang sudah mahir yang memiliki kemampuan memilih besi mana yang baik dan mana yang tidak baik sebagai bahan keris. Cara memilih besi bisa menggunakan berbagai cara. Masing-masing pembuat keris memiliki keterampilan berbeda-beda.

Ada yang hanya dengan cara mengamati fisik dan warna besi, ada yang harus memukul dan dari suara dentangan besi itu bisa ditentukan pilihannya. Semua itu, konon tergantung kebiasaan dari pembuat keris, dan konon pula hasilnya akan sama, karena tujuannya sama; memilih bahan yang bagus.

Besi yang sudah ditentukan, kemudian dibentuk menjadi balok lebar sekitar 5 sentimeter, tebal 2-3 sentimeter. Ada dua balok besi berukuran, bentuk dan berat dibuat sama.

Langkah kedua, menyiapkan pamor. Ada beberapa jenis pamor yang biasa dipakai. Lazimnya, sekarang para pembuat keris mempergunakan nikel. Besi nikel bisa didapatkan di pasar besi tua dengan gampang. Namun ada juga yang mempergunakan velk mobil atau sepeda motor bekas.

Untuk keris tertentu, pesanan misalnya, biasanya memakai meteorid sebagai pamor. Namun, karena barang ini sudah sangat langka, meteorid bisa "dikumpulkan" dari pedang atau keris tua yang sudah tidak terawat kemudian dilebur untuk diambil pamornya.

Jika pamor yang dipakai berupa kepingan kecil-kecil, untuk mengumpulkannya bisa diakali dengan membuat amplop dari lempengan besi. Kepingan-kepingan tersebut kemudian dimasukkan dalam amplop tersebut, disatukan dan kemudian dibentuk menjadi balok yang bentuknya sama dengan balok besi yang disiapkan di awal.

Balok berisi nikel, dijepit di antara dua balok (batangan) besi dan kemudian dibakar. Proses pembakaran diperkirakan mencapai 1.000 derajad selsius lebih. Arang kayu jati menjadi pilihan utama, karena panas arang kayu jati lebih stabil dibanding arang jenis kayu yang lain.

JIka pada bara api sudah muncul kembang api yang berasal dari balok-balok besi yang dibakar tadi, proses penempaan segera dimulai. Proses penempaan ini merupakan cara untuk menyatukan tiga balok tersebut.

Dalam proses ini, ketiga balok harus benar-benar rekat, karena saat itulah seorang empu sedang mengawali pembuatan motif pamor. Jika sudah benar-benar menyatu, besi itu kemudian dipotong menjadi dua, sehingga pamor akan menjadi dua lapis. Dilanjutkan seperti pada proses awal, yakni perekatan dan pemanjangan besi yang sudah berpamor itu.

Demikian seterusnya penempaan dilakukan, sampai mendapatkan lapisan besi dengan lapisan-lapisan yang diinginkan. Semakin banyak lapisan, akan semakin halus pamor yang diperoleh. Menghitung lapisannya menggunakan deret ukur. 1, 2, 4, 8, 16, 32, 62 dan seterusnya.

Bahan dasar besi berpamor ini, sudah bisa dipergunakan untuk pamor jenis beras wutah, atau wos wutah.

Misalnya pada kelipatan 62, proses dihentikan pun bisa. Besi berpamor itu kemudian dibagi dua, dan dibentuk menjadi trapesium. Ujung yang lebih kecil diarahkan menjadi bagian ujung keris, sedangkan yang lebar diarahkan menjadi bagian pangkal keris.

Berikutnya, disiapkan potongan baja murni dan dibentuk trapesium sedikit lebih lebar dibanding trapesium dengan bahan besi berpamor. Tiga trapesium ini kemudian direkatkan dengan pembakaran yang sama sebagaimana dilakukan pada proses pembuatan bahan dasar besi berpamor.

Langkah selanjutnya adalah membentuk keris, menurut apa yang direncanakan oleh empu keris.