Rabu, 10 September 2008

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan
Author : Nurcholish Madjid
Publisher : Mizan

“Setiap pembaru, di mana pun di muka bumi ini, hampir pasti

selalu dilawan, dicaci-maki, dan dimusuhi, tetapi ajaibnya diam-diam diikuti. Ini juga berlaku atas cendekiawan Indonesia Nurcholish Madjid yang telah bekerja keras untuk mengawinkan keislaman dan keindonesiaan, sebuah sumbangan

berharga tinggi telah diberikannya kepada bangsa ini.”

—Ahmad Syafii Maarif

Mantan Ketua PP Muhammadiyah

Tak sulit disepakati bahwa Nurcholish Madjid adalah seorang pemikir-Muslim modernis atau, lebih tepat, neomodernis—menggunakan peristilahan yang sering ia sendiri lontarkan. Maka, melanjutkan para perambah modernisme (klasik) di masa-masa lampau, Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernistik. Namun, berbeda dengan para pendahulunya, kesemuanya itu tetap harus didasarkan atas kekayaan khazanah pemikiran keislaman tradisional yang telah mapan. Di segi lain, sebagai pendukung neomodernisme, ia cenderung meletakkan dasar-dasar keislaman dalam konteks nasional—dalam hal ini, keindonesiaan.

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan ini—di tengah berbagai pembahasan atas tokoh ini—adalah buku pertama yang menampilkan secara lengkap pikiran-pikiran “tangan pertama” Nurcholish Madjid, lewat tulisan-tulisannya sendiri mengenai soal-soal di atas. Meliputi rentang waktu tak kurang dari dua dasawarsa, antologi ini memuat pula pikiran-pikirannya tentang sekularisasi, plus tinjauan-tinjauan kembalinya atas “heboh intelektual” yang disulutnya itu—tak kurang dari lima belas tahun setelah itu.

Keris, dari Besi Tua ke Besi Aji


Bagian bawah keris Sabuk Inten

Oleh Wartawan Kompas.com, IGN Sawabi

MEMBUAT keris diawali dengan pemilihan bahan baku yang baik. Dalam kasanah perkerisan ada berbagai jenis besi. Yang sering disebut-sebut ada besi Mangangkang, Pulosrani, Balitung dan sebagainya.

Tentu hanya mereka yang sudah mahir yang memiliki kemampuan memilih besi mana yang baik dan mana yang tidak baik sebagai bahan keris. Cara memilih besi bisa menggunakan berbagai cara. Masing-masing pembuat keris memiliki keterampilan berbeda-beda.

Ada yang hanya dengan cara mengamati fisik dan warna besi, ada yang harus memukul dan dari suara dentangan besi itu bisa ditentukan pilihannya. Semua itu, konon tergantung kebiasaan dari pembuat keris, dan konon pula hasilnya akan sama, karena tujuannya sama; memilih bahan yang bagus.

Besi yang sudah ditentukan, kemudian dibentuk menjadi balok lebar sekitar 5 sentimeter, tebal 2-3 sentimeter. Ada dua balok besi berukuran, bentuk dan berat dibuat sama.

Langkah kedua, menyiapkan pamor. Ada beberapa jenis pamor yang biasa dipakai. Lazimnya, sekarang para pembuat keris mempergunakan nikel. Besi nikel bisa didapatkan di pasar besi tua dengan gampang. Namun ada juga yang mempergunakan velk mobil atau sepeda motor bekas.

Untuk keris tertentu, pesanan misalnya, biasanya memakai meteorid sebagai pamor. Namun, karena barang ini sudah sangat langka, meteorid bisa "dikumpulkan" dari pedang atau keris tua yang sudah tidak terawat kemudian dilebur untuk diambil pamornya.

Jika pamor yang dipakai berupa kepingan kecil-kecil, untuk mengumpulkannya bisa diakali dengan membuat amplop dari lempengan besi. Kepingan-kepingan tersebut kemudian dimasukkan dalam amplop tersebut, disatukan dan kemudian dibentuk menjadi balok yang bentuknya sama dengan balok besi yang disiapkan di awal.

Balok berisi nikel, dijepit di antara dua balok (batangan) besi dan kemudian dibakar. Proses pembakaran diperkirakan mencapai 1.000 derajad selsius lebih. Arang kayu jati menjadi pilihan utama, karena panas arang kayu jati lebih stabil dibanding arang jenis kayu yang lain.

JIka pada bara api sudah muncul kembang api yang berasal dari balok-balok besi yang dibakar tadi, proses penempaan segera dimulai. Proses penempaan ini merupakan cara untuk menyatukan tiga balok tersebut.

Dalam proses ini, ketiga balok harus benar-benar rekat, karena saat itulah seorang empu sedang mengawali pembuatan motif pamor. Jika sudah benar-benar menyatu, besi itu kemudian dipotong menjadi dua, sehingga pamor akan menjadi dua lapis. Dilanjutkan seperti pada proses awal, yakni perekatan dan pemanjangan besi yang sudah berpamor itu.

Demikian seterusnya penempaan dilakukan, sampai mendapatkan lapisan besi dengan lapisan-lapisan yang diinginkan. Semakin banyak lapisan, akan semakin halus pamor yang diperoleh. Menghitung lapisannya menggunakan deret ukur. 1, 2, 4, 8, 16, 32, 62 dan seterusnya.

Bahan dasar besi berpamor ini, sudah bisa dipergunakan untuk pamor jenis beras wutah, atau wos wutah.

Misalnya pada kelipatan 62, proses dihentikan pun bisa. Besi berpamor itu kemudian dibagi dua, dan dibentuk menjadi trapesium. Ujung yang lebih kecil diarahkan menjadi bagian ujung keris, sedangkan yang lebar diarahkan menjadi bagian pangkal keris.

Berikutnya, disiapkan potongan baja murni dan dibentuk trapesium sedikit lebih lebar dibanding trapesium dengan bahan besi berpamor. Tiga trapesium ini kemudian direkatkan dengan pembakaran yang sama sebagaimana dilakukan pada proses pembuatan bahan dasar besi berpamor.

Langkah selanjutnya adalah membentuk keris, menurut apa yang direncanakan oleh empu keris.

Selasa, 09 September 2008

Mengadu Domba

Mengadu Domba


Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah SAW melewati dua kuburan, beliau mendengar penghuni kuburan itu sedang disiksa malaikat. Lalu beliau bertanya kepada beberapa sahabat yang menyertainya, ''Tahukah kalian tentang orang yang ada dalam kuburan ini?'' Namun sebelum mereka menjawab, Nabi SAW melanjutkan, ''Mereka sedang disiksa karena melakukan dosa besar: yang pertama suka berbuat namimah (mengadu domba), dan kedua tidak pernah bersuci setelah kencing.''

Hadis di atas dengan tegas menggolongkan namimah sebagai perbuatan dosa besar yang mendapat siksaan langsung di dalam kuburan. Mendapat siksaan langsung, karena namimah merupakan perbuatan yang sangat berbahaya dan berpotensi besar untuk menghancurkan persatuan dari dalam.

Namimah biasanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah iman, berhati busuk, dan buruk mental. Mereka melakukan itu, di antaranya karena tidak tahan melihat kesuksesan orang lain atau tidak mampu mengejar prestasinya. Dan tidak jarang, persatuan dan persaudaraan umat terancam pecah hanya gara-gara perbuatan namimah sekelompok orang.

Di zaman revolusi dulu, seperti pernah dituturkan almarhum Hamka, telah terjadi permusuhan dan pertumpahan darah karena adanya provokasi adu domba yang dipicu oleh orang yang bermental lemah dan dengki.

Alquran dan hadis dengan tegas mengutuk pelaku namimah. ''Celakalah bagi setiap orang yang suka mengadu domba dan mencela.'' (Q. S. 104: 1). ''Tidak akan masuk surga,'' kata Nabi SAW, ''orang yang suka mengadu domba.'' (H.R. Bukhari Muslim).

Mengadu domba merupakan perbuatan yang sangat cepat mengundang api permusuhan, ibarat membakar kayu yang apinya cepat menjalar. Itu sebabnya, istri Abu Lahab yang suka mengadu domba suku Quraisy, oleh Alquran dijuluki sebagai Hammalatul Hatab (si pembawa kayu bakar).

Ini, menurut ahli tafsir, kobaran api permusuhan akibat namimah sama membaranya dengan kobaran api kayu bakar seperti yang dibawa oleh istri Abu Lahab tadi.

Alquran juga mengkatagorikan pengadu domba sebagai orang fasik yang perlu diverifikasi (diteliti) kebenaran beritanya (Q. S. 49: 6). Karena itu, meski Agustus ini kita bangsa Indonesia genap 50 tahun menikmati kemerdekaan di alam kesatuan Indonesia, namun kita harus tetap waspada dan hati-hati terhadap munculnya kelompok-kelompok tertentu yang sengaja ingin menghancurkan persatuan kita.

Sehingga bangsa kita yang sangat heterogen, terdiri dari berbagai suku dan agama, tidak gampang dicerai-berai oleh perbuatan adu domba yang direkayasa oleh orang-orang yang picik dan tak bertanggung jawab.mr-republika

Musik Angklung Bergema di Padang Pasir

Musik Angklung Bergema di Padang Pasir
Alunan alat musik angklung dengan lantunan syair Shalawat Nabi, Talaal Badru Alaina, Ilahilast Tombo Ati, dan We are the World dibawakan pelajar Indonesia menggema di tengah padang pasir dalam acara Ramadan Nights dihadiri sekitar 400 kalangan sivitas akademika di Education City, Qatar.

Penampilan pelajar Indonesia dalam Ramadan Nights yang diadakan Qatar Foundation pimpinan Permaisuri Raja Qatar, H.H. Sheikha Mozah Bint Nasser al-Missned dalam rangka Ramadhan dan sekaligus memperkenalkan kebudayaan negara berpenduduk mayoritas Islam kepada keluarga besar Education City, demikian Jurubicara KBRI Qatar A. Sudradjat kepada koresponden Antara London, Selasa.

Duta Besar Rozy Munir mengatakan keikutsertaan KBRI Doha dalam acara yang cukup bergengsi tersebut, dimanfaatkan untuk meningkatkan kesan positif Indonesia tidak saja di mata penduduk setempat tetapi juga masyarakat Internasional di Qatar..

Suara musik asal Jawa Barat membangkitkan keingintahuan intelektual berbagai negara yang menimba ilmu di berbagai perguruan di Qatar seperti Georgetown University School of Foreign Sevice, Texas A and M University, Virginia Commonwealth School of the Arts dan Carnegie Mellon University Qatar.

Menurut A Sudradjat, Kedutaan Besar RI di Doha bersama empat wakil Negara Islam seperti Turki, Palestina, Mesir, dan India bersama delapan perusahaan berpartisipasi dalam Bazar ?Ramadan Nights? dengan menampilkan kerajinan dan makanan khas serta menampilkan seni budaya masing-masing negara.

Dikatakannya pengunjung terkesan dengan penampilan alat musik angklung yang dibawakan putera-puteri Indonesia yang berkolaborasi dengan grup musik band KBRI dan pencak silat oleh Persatuan Gerak Badan Bangau Putih Cabang Qatar serta suguhan teh dan kopi khas Indonesia.

Selain di kalangan sivitas akademik yang datang dari berbagai Negara dan sekaligus mengenal potensi yang dimiliki Indonesia di bidang sosial budaya termasuk pariwisata dengan tersedianya brosur dan pemutaran film wisata Indonesia diharapkan akan dapat meningkatkan minat melakukan kunjungan wisata ke Indonesia

Minggu, 07 September 2008

Kitab Kuning Belum Bisa Diterjemahkan

Kitab Kuning Belum Bisa Diterjemahkan

Bahasa Indonesia belum bisa digunakan untuk menerjemahkan secara harfiah beberapa kitab kuning yang dipelajari di pondok-pondok pesantren salaf (klasik) di Indonesia.

"Sepertinya kosa kata Bahasa Indonesia itu tidak sekaya Bahasa Jawa sehingga sampai sekarang belum ada orang yang memberikan makna kitab kuning dengan Bahasa Indonesia," kata Pengasuh Ponpes Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, K.H. Achmad Yasin Asmuni, Sabtu.

Ponpes Hidayatut Thullab merupakan satu-satunya pondok pesantren salaf di Indonesia yang aktif memproduksi kitab kuning dengan makna Bahasa Jawa.

Sejak tahun 1993 sampai sekarang pondok pesantren yang berada di lereng Gunung Wilis, Kabupaten Kediri itu telah menerjemahkan 115 judul kitab kuning ke dalam Bahasa Jawa.

Kiai Yasin mengatakan, selain Bahasa Jawa ada Bahasa Madura dan Bahasa Sunda yang bisa digunakan untuk memberikan makna sejumlah kitab kuning itu. "Saya sendiri heran, seharusnya Bahasa Indonesia bisa digunakan untuk memaknai setiap kata dalam kitab kuning itu. Seharusnya ini juga menjadi tantangan bagi pakar Bahasa Indonesia dengan terlebih dulu membandingkan Bahasa Jawa dalam memaknai kitab kuning," katanya.

Padahal selama ini santri-santri yang belajar kitab kuning di sejumlah ponpes salaf tidak hanya berasal dari Jawa, Sunda, atau Madura. Bahkan sampai sekarang masih banyak santri-santri ponpes salaf berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Beberapa provinsi itu, termasuk Papua selama ini juga aktif mengirimkan santrinya dalam ajang Musabaqoh Qiroatil Kutub (lomba baca kitab kuning) tingkat nasional yang rutin digelar Departemen Agama setiap dua tahun sekali.

Menurut Kiai Yasin, Bahasa Indonesia hanya bisa digunakan untuk menyimpulkan isi kandungan (makna murad) di dalam kitab kuning. "Tapi kalau digunakan untuk memberikan makna harfiah secara sempit seperti yang lazim dipelajari santri salaf belum bisa," kata kiai muda yang dipromosikan mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari sebuah perguruan tinggi di Inggris itu.

Oleh sebab itu, beberapa santri asal luar Pulau Jawa yang belajar di ponpes salaf di Jawa terpaksa menyempatkan diri untuk belajar Bahasa Jawa.

Sejauh ini belum ada sejarah mengenai awal mula pembelajaran kitab kuning di Indonesia. "Namun berdasar cerita para ulama sepuh zaman dulu, yang meletakkan dasar-dasar mempelajari kitab kuning dengan menggunakan Bahasa Jawa adalah Mbah Sholeh Ndarat yang hidup sekitar 150 tahun lalu," katanya.

Selain berasal dari negara-negara di Jazirah Arab, kitab kuning yang dipelajari para santri salaf saat ini juga ada yang berasal dari Indonesia, diantaranya Sullamut Taufiq (Banten) dan Sirajut Tholibin (Jampes, Kediri).

Kematian


Kematian


Tidak lama setelah kematian Presiden Nasser secara tiba-tiba, delegasi Mesir berkunjung ke RRC. Dalam suatu audiensi dengan PM Zhou Enlai, petinggi Cina itu menanyakan sebab kematian Nasser. Ketika dijawab bahwa penyebabnya tidak dapat dipisahkan dari kehendak Tuhan, Zhou buru-buru menyergah dengan menyatakan, ''Jangan membawa-bawa Tuhan. Saya jauh lebih tua dan sampai sekarang ini saya sehat-sehat. Apalagi sebagai Presiden dia kan mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.'' Hasanil Haikal, Menteri Penerangan Mesir pada masa Nasser menulis kisah ini dalam suatu biografi pemimpin besar Mesir itu. Zhou sendiri, yang telah dipersiapkan oleh Ketua Mao Zedong sebagai penggantinya, meninggal hanya beberapa tahun setelah Nasser, yang kemudian memaksa Mao merehabilitir Deng Zioping. Berbeda dengan paham komunisme, Islam memandang bahwa kematian tidaklah berarti akhir dari perjalanan manusia, tapi awal dari suatu kehidupan yang kekal di akhirat. Alquran mengingatkan kita tentang hari kebangkitan itu dalam ratusan ayat dan sekaligus menepis keraguan tentangnya. Islam berpendapat manusia adalah mahluk yang terdiri dari jiwa dan raga, atau badan dan ruh. Badan manusia sendiri senyawa materi dan tunduk pada materi. Keberadaannya terbatas pada waktu dan tempat, terpengaruh oleh cuaca - dan sebagaimana ditetapkan Allah suatu hari tubuh atau badan inipun hancur dan binasa. Tetapi tidak demikian dengan jiwa atau ruh. Karena itulah Islam menegaskan kematian tidaklah berarti kita berhenti maujud. Kematian berarti jiwa manusia - yang tidak dapat musnah - memutuskan ikatannya dengaan tubuh jasmani, dan sekalipun badan itu hancur dengan kematian tapi jiwa melanjutkan kehidupananya sendiri. ''Dan mereka berkata: Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru. Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Tuhannya''. Katakanlah : ''Malaikat maut yang untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu: kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan'' (As-Sajdah 10-11). Rasulullah SAW sendiri menyatakan, ''Kamu tidaklah mati, namun kamu hanya dipindahkan dari satu tempat tinggal ketempat tinggal yang lain''. Berdasarkan ayat itu, Islam memberi jaminan bahwa setelah kita mati dan hidup kekal dalam alam barzah - kita akan memperoleh kebahagiaan dan kesenangan apabila dalam hidup di dunia ini kita melakukan amal saleh. Tapi sebaliknya seseorang yang dalam hidupnya melakukan perbuatan-perbuatan jahat akan memperoleh siksa dari Allah. Jadi, meminjam kata Muhammad Husain Haekal, pengarang sejarah Nabi Muhammad SAW, barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah dan melakukan perbuatan-perbuatan baik, dengan imannya semacam itu, dia tidak pernah merasa takut, termasuk dalam menghadapi kematian. Dan iman semacam inilah yang membuat Nabi dan para sahabatnya tidak pernah gentar dalam situasi apa pun.mr-hikmahrepublika

Tiada Agama tanpa Akal

Tiada Agama tanpa Akal

Oleh: Ahmad Tohari

Tentang rokok saya punya beberapa pengalaman keseharian yang cukup menarik. Di antaranya, percakapan saya dengan seorang teman yang bekerja di sebuah industri rokok raksasa. Secara iseng saya bertanya, "Wah, kamu enak ya, saban hari bisa merokok dengan gratis." Teman tadi tersenyum dan jawabannya cukup mengejutkan.

"Sekali pun kami tak pernah mendapat rokok gratisan dari perusahaan. Mereka berpendapat, rokok adalah racun. Maka, mereka tidak akan pernah memberikan rokok itu kepada para karyawan."

"Jadi, para karyawan perusahaan tempat kamu bekerja tidak pernah merokok?"
"Bukan begitu. Rokok boleh diisap oleh para karyawan tapi atas pilihan dan biaya sendiri."

Pengalaman lainnya adalah percakapan saya dengan teman yang biasa mancing bersama ke tengah laut. Sebenarnya dia bukan perokok berat. Namun, pada usia di atas 60 tahun dia terkena kanker paru. Pada hari-hari terakhir hidupnya, dia bilang kepada teman-teman yang datang menjenguknya di rumah sakit. "Teman-teman, cukuplah saya yang menderita sakit seperti ini. Kalian jangan. Maka, saya minta kalian yang merokok berhentilah."

Masih ada pengalaman lain. Bahkan, ini menyangkut kakak perempuan kandung saya. Pada usia 50 tahun kakak terkena kanker paru juga. Bukan karena dia merokok, melainkan suaminya yang perokok berkelanjutan. Setelah kematian kakak, anak-anaknya berantakan.

Barangkali belum cukup? Beberapa waktu yang lalu di harian ini saya sudah menyampaikan data bahwa 19 juta warga masyarakat miskin kita mengisap rokok dengan nilai Rp 23 triliun per tahun. Mungkin tidak banyak orang yang merenung lebih jauh bahwa pada kasus ini telah terjadi perampasan atas hak puluhan juta anak miskin.

Hak apa? Hak mendapat asupan gizi yang lebih baik; hak mendapat buku-buku pelajaran; dan hak atas biaya kesehatan. Itu semua gara-gara ayah mereka yang miskin lebih suka memilih rokok daripada memenuhi kewajiban atas anak-anaknya.

Harus diingat jumlah anak miskin yang terampas haknya ini saja pasti lebih besar daripada jumlah seluruh petani tembakau ditambah dengan karyawan industri dan distributor rokok di seluruh Indonesia. Belum lagi, bila jumlah anak yang terampas haknya itu ditambah dengan jumlah pelajar dan mahasiswa yang telah kecanduan nikotin sehingga mereka lebih mengutamakan rokok daripada buku. Malah kita bisa merenung lebih dalam bila membaca data yang dicatat oleh Prof Dadang Hawari: setiap tahun 57 ribu orang meninggal di Indonesia karena rokok. Berarti rata-rata 156 orang setiap hari dan angka ini hanya sedikit di bawah angka korban narkoba.

Jadi, benar rokok adalah racun, baik dalam arti kiasan maupun arti sesungguhnya. Bahkan, produsen sendiri telah menjelaskan dalam huruf-huruf besar bahwa rokok bisa menyebabkan kanker, serangan jantung, dan gangguan janin. Tapi, masyarakat dan pemerintah tampak belum melihatnya sebagai ancaman yang serius. Ini sebuah ironi yang menyedihkan. Beda dengan Singapura yang berupaya keras mengendalikan konsumsi rokok oleh warganya. Singapura sedang berjalan pasti menuju bangsa bebas tembakau.

Ironi besar juga hidup subur di kalangan masyarakat yang konon telah memakruhkan rokok. Kalau benar rokok hukumnya makruh, seharusnya para santri dan para tokoh Islam bisa menampilkan diri sebagai contoh pribadi yang menjauhi rokok. Tapi, nyatanya di kalangan mereka rokok adalah hal yang sangat umum. Mereka lupa posisi sebagai panutan dan perilaku mereka jadi acuan umat.

Atau, hukum makruh rokok itu pun sebuah ironi. Karena hukum itu diputuskan pada masa baheula, jauh sebelum tercapai kemajuan ilmiah yang bisa membuktikan secara nyata dan objektif bahaya rokok terhadap kesehatan bahkan jiwa manusia. Juga, karena sifat konsumsi rokok yang menimbulkan efek ketergantungan maka akan terjadi makruh secara berkelanjutan. Ya, (lagi-lagi) ironisnya para santri juga tahu apa jadinya apabila hal yang makruh dilakukan terus-menerus.

Maka, daripada repot berwacana dan menunggu bertele-tele fatwa ini-itu, lebih baik kita bertindak sendiri-sendiri. Tinggalkan rokok demi akal sehat. Toh, dalam konteks rokok pun mestinya kita boleh berdalil, tiada agama tanpa akal.mr-republika