Kamis, 04 September 2008

Tantangan Terhadap Agama

Tantangan Terhadap Agama

Oleh: Azyumardi Azra

Ibadah puasa, bagi kalangan luar, mungkin agak sulit dipahami; mereka bisa membayangkan beratnya tidak makan dan minum sekitar 14 jam. Khususnya bagi daerah-daerah tropis, seperti Indonesia dan lebih-lebih lagi di daerah padang pasir yang sangat panas di banyak kawasan Timur Tengah, ibadah puasa memang jauh daripada sekadar ujian yang ringan bagi ketahanan jasmaniah.

Meskipun demikian, ibadah puasa selalu disambut kaum Muslimin dengan penuh antusias. Di negeri kita, ibadah puasa lebih daripada sekadar ritual keagamaan, bahkan sudah menjadi ekspresi kultural; banyak aktivitas sosio-kultural yang dilakukan masyarakat kita di seputar ibadah puasa, baik menjelang masuknya bulan Ramadhan, sepanjang bulan suci ini, dan juga pada waktu Idul Fitri dan pasca-Ramadhan.

Ibadah puasa, seperti banyak ibadah lainnya dalam Islam, memang tidak bisa dijelaskan secara rasional belaka. Rasio mungkin tidak cukup memadai untuk memahaminya. Boleh jadi saja ada orang yang merasionalisasikan ibadah puasa sebagai salah satu cara untuk diet yang baik untuk kesehatan jasmani. Tetapi, lagi-lagi dari perspektif Quran, ibadah puasa diserukan untuk ''orang-orang beriman''; dan beriman memang dalam hal-hal tertentu, tidak lagi melibatkan rasio dan akal. Agama adalah untuk diimani, bukan untuk dirasionalisasikan.

Dalam satu waktu di tengah perkembangan peradaban dunia modern, rasio dan akal memang pernah menjadi titik berangkat segala sesuatu, termasuk agama. Dalam perspektif ini, agama harus dilihat dalam kacamata rasio; apakah masuk akal atau tidak; agama yang tidak masuk akal, karena itu haruslah ditolak dan ditinggalkan.

Inilah salah satu tantangan yang menurut Saiyid Fareed Ahmad dan Saiyid Salahuddin Ahmad dalam Lima Tantangan Abadi terhadap Agama: Dan Jawaban Islam Terhadapnya (Bandung: Mizan, 2008) berlaku sepanjang masa. Para pemikir ateis dari dulu sampai sekarang ini memang tidak pernah berhenti mempersoalkan keimanan agama, yang dalam pandangan mereka tidak masuk akal; dan karena itu mengajukan argumen-argumen rasional agar orang-orang beriman meninggalkan agama mereka masing-masing.

Tetapi juga segera jelas, bahwa agama pertama-tama tidak bisa dipahami secara rasional belaka. Ini bukan karena rasio itu sendiri memiliki keterbatasan, melainkan juga karena agama memang tidak bertumpu pada akal belaka. Tentu saja, ada aspek-aspek keimanan dan ibadah yang dalam batas tertentu dapat dijelaskan rasio; tetapi juga cukup banyak aspek agama yang tidak bisa dijelaskan rasio--atau rasio tidak memiliki kemampuan cukup memadai untuk menjelaskannya.

Lebih jauh lagi, intensitas keagamaan dan ekspresi pengalaman keagamaan lebih bertumpu pada hati (qalb); berada pada ranah afeksi daripada ranah kognisi belaka. Karena itulah, jika orang-orang beriman ingin mendapatkan pengalaman keagamaan yang intens, mereka melakukan pembersihan hati (tazkiyatul qalb), yang dapat membawa mereka ke tingkat pengalaman keagamaan (maqamat) lebih tinggi. Pada gilirannya peningkatan maqamat tersebut tidak hanya menimbulkan ketenteraman batin, tetapi juga membuat mereka merasa lebih dekat kepada Tuhan.

Perspektif inilah yang dipegangi kaum sufi. Bagi mereka puasa adalah salah satu ''latihan'' (riyadhah), baik secara fisik maupun mental untuk meningkatkan spiritualitas mereka. Sebagai latihan, puasa harus dikerjakan terus-menerus, tidak hanya pada Ramadhan, tetapi juga di luar bulan puasa, melalui puasa Senin-Kamis dan puasa Nabi Daud--selang satu hari. Dengan puasa kalbu, mereka tidak hanya menjadi lebih bersih, tetapi pula memiliki kekuatan rohaniah (spiritual power) yang tidak terduga.

Dalam dunia modern sekarang, tuntutan bagi kekuatan rohaniah terasa kian dibutuhkan. Banyak godaan kehidupan material yang dapat membuat orang tergelincir ke dalam lubuk yang sangat dalam. Dan, hal ini kian disadari banyak orang. Inilah yang kemudian mendorong banyak orang pula tidak hanya kembali kepada agama, tetapi berusaha semaksimal mungkin untuk memperkaya pengalaman rohani mereka sehingga dapat menghadapi berbagai gejolak kehidupan dengan lebih damai.

Pengayaan dan penguatan rohani meniscayakan perspektif lebih luas terhadap agama. Dalam konteks ini, agama tidak cukup dipandang hanya sebagai ketentuan-ketentuan hukum belaka. Agama yang dipandang seperti itu dapat menjadi terasa kering dan kaku, yang boleh jadi membuat para penganutnya melakukan pencarian yang bukannya tidak mungkin berujung pada penyimpangan.

Islam memberikan kedua dimensi itu; dimensi hukum yang sering disebut sebagai eksoterik dan dimensi rohaniah yang disebut esoterik. Jika sepanjang sejarah Islam kedua dimensi itu boleh jadi tarik-menarik dan bahkan ketegangan, maka itu dapat mereduksi pengalaman beriman dan berislam. Sudah waktunya, pemaduan kedua dimensi Islam ini selalu diperkuat dan diberdayakan sehingga umat Muslimin lebih damai menghadapi berbagai cobaan, tantangan, dan kegundahan kehidupan.mr-republika

Tidak ada komentar: